Sabtu, 08 Mei 2010

KONSEP KEPEMIMPINAN KRISTEN

Pemimpin Yang Pragmatis

Akhir-akhir ini beragam berita memenuhi kehidupan keseharian manusia. Berbagai media massa memberikan informasi tentang hal-hal yang negatif dalam dunai berupa: terorisme global, ancaman resesi ekonomi dunia, konflik agama, politik dan sosial, maraknya free seks di kalangan remaja, kriminalitas yang semakin meningkat, ada juga isu-isu korupsi bahkan di tempat kerja kitapun mengalami hal yang sama. Fenomena ini membuat banyak orang termasuk para pemimpin bersikap pesimis dan apatis bahkan ikut kompromi
Alkitab menegaskan bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk berkolaborasi dengan Dia, berkarya dalam menghadirkan realita nilai-nilai kerajaan Allah ( nilai-nilai Kristen yang universal ) dalam system nilai dunia yang amburadul, membenci dan melawan Allah.
Berdasarkan dasar teologi jelas diatas, maka seharusnya orang keisten atau pemiempin-pemimpin Kristen dapat memikirkan alternative baru yang disukung dengan kapasitas dan imajinasi pemimpin yang tinggi, dengan demikian kita dapat menyatakan idealisme Kristen di tengah pesimisme dan kekacauan dunia ini. Martin Luther King Jr, yang berani bermimpi dan menyatakan mimpinya itu kedalam dunia yang kacau dengan perjuangan untuk menyatakan bahwa, semua manusia (anak-anak) memiliki derajat yang sama dan penilaian terhadap manusia bukan dari kulit melainkan dari integritas karakternya.

Memimpin Umat Allah Dengan Creative Tension

Manusia senantiaa hidup dalam “ Tension “ yaitu hidup diantara kedatangan Kristus yang pertama dan kedua kali, antara Jumat Agung dan Minggu Paskah, antara Kerajaan Allah yang sudah datang dan yang akan datang. Dalam tension ini, manusia tidak terlepas dari berbagai persoalan dan tantangan, yang kadang membuat kita melupakan status kita sebagai anak-anak Allah.
Teologi Kristen mengajarkan bahwa ada permusuhan antara manusia dengan si jahat. Namun janji Allah dalam Kejadian 3:15 merupakan jaminan bagi umat Allah untuk terlepas dari semua ikatan iblis itu. Kehadiran Anak Allah menyatakan “Kehadiran Kerajaan Allah” yang didalamnya manusia yang berdosa diselamatkan dan kembali untuk diperintah oleh Allah dalam kedaulatan-nya.

Thought Leadership

Thought Leadership adalah pemikir strategis yang selalu terdepan dan lebih dulu dari orang lain dalam menelurkan ide-ide inovatif, terobosan efektif dan solusi transformative untuk problematika dunia. Pemimpin Kristen harus menjadi Thought Leaders karena Allah telah memberikan kepada para pemimpin Kristen dua kebenaran tansenden – Absolut dan Mandat Ratio.
Kebenaran yang transcendent dan Absolut adalah menyangkut Kristus dan Firman-Nya. Kebenaran ini sudah dianugrahkan kepada manusia yang tidak akan pernah dikalahkan oleh ideology dan Filsafat dunia ini. Kebenaran inilah yang seharusnya direnungkan, digumuli, dipelajari , ditelaah, dikupas dan diaplikasikan dalam semua area kehidupan manusia dan realitas dunia. Dengan demikian, rasio pemimpin Kristen yang sudah diterangi oleh kebenaran absolut itu seharusnya lebih lagi membangkitakan tought Leaders untuk menyetakan kebenaran Allah dalam dunia, diberbagai aspek agar nilai-nilai dunia itu dapat diarahkan kepada kebenaran yang absolut dan transenden itu. Ini merupakan panggilan (mandate) khusus bagi manusia agar menjadi Thought Leadership.

Pemimpin, Selebritis Dan Berhala : Pengkhultusan Individu Pemimpin

Sekretaris jenderal PBB Kofi Annan dalam pidatonya mengatakan, pelajaran terpenting dari abad ke-20 yang dapat ditarik oleh para pemimpin dunia adalah abahwa system sentrralisasi kekuasan telah gagal. Pernyataan ini hendak mengajarkan bahwa “Kepemimpina yang berpusat pada individu tertentu adalah tidak efisien dan tidak sehat, dampaknya dapat melumpuhkan kapabilitas yang ada diluar diri pemimpin.
Kehidupan jemaat Korintus yang sedang mengalami perpecahan merupakan akibat dari Pengkhultusan individu pemimpin atau personality cult. Jemaat tercerai kedalam golongan yang dilabeli nama figure idola mereka, yaitu: Paulus, Apolos, Kefas bahkan ada kelompok sendiri yang menyatakan diri sebagai kelompok Kristus.
Sikap pengkhultusan individu pemimpin ini membawa jemaat di Korintus atau kita saat ini dapat beralih dari perhatian kepada Kristus, sehingga Kristus dapat digeser dari tempat-Nya, dengan demikian pemimpin menjadi pusat penyembahan kita, dapat disebut penyembahan berhala.


Ketaatan Terhadap Otortis Pemimpin

Otoritas merupakan ciri khas seorang pemimpin dalam menjalankan pemerintahannya. Namun otoritas itu dapat disalah gunakan. Masyarakat bisa salah persepsi tentang otoritas tersebut. Dengan otoritas seorang pemimpin bisa menutupi atau memalsukan data akutansi, sehingga kesadaran dan keberanian untuk mengungkap kebusukan tersebut tidak terjadi. Selanjutnya dengan otoritas itu pula, para pemimpin dapat membunuh semua orang yang menjadi musuh mereka. Contohnya : Hitler dan Jim Jones.
Meskipun manusia memiliki kapasitas untuk membuat pilihan moral dan bertanggungjawab secara moral, namun kapasitas ini sering tidak berdaya ketika berhadapan dengan otoritas seorang pemimpin. Selain itu ada banyak orang yang memilih berdiam diri dari pada menyatakan tanggungjawab moralnya, bahkan berdiam diri dalam ketaatan kepada otoritas tersebut.
Memang benar kitaperlu dan harus tunduk pada otoritas pemimpin (Rm 13), namun ketundukan dan ketaatan itu jangan membabi buta. Pada saat kita menerima mentah-mentah apa yang dikatakan pemimpin, maka kita telah jatuh dalam ketaatan buta, ini adalah hal yang berbahaya.

Memimpin Tanpa Mengontrol Orang Lain

Manusia memiliki natur untuk “Selalu Mengontrol” segala sesuatu. Natur ini selalu diekspresikan dengan mengatur waktu, keuangan, dan rencana-rencana kedepan. Namun bahaya dari natur ini adalah manusia menginginkan waktu, harta, dan masa depan berjalan dengan keinginannya, bahkan keinginan untuk mengontrol dan menguasai orang lain. Apa lagi proses kondisi sosial (Nature) melegitimasinya, mak ia akan memimpin dengan cara intimidasi bahkan mengarah pada tirani. Pemimpi yang dicintai oleh banyak orang cenderung mempunyai ilusi control yang kuat. Semakin ia disanjung dan dipuji orang, semakin ia ingin mendominasi dan menguasai banyak orang.
Jalan keluar bagi pemimpin yang ilusi control ini adalah menyadari natur keberdosaan dirinya akibat kejatuhan dalam dosa dan kembali kepada Yesus dan melaksanakan model kepemimpinan Pelayan (Servan Leadership) yang siap melayani sesamanya dengan kuasa (Power) yang otentik terletak pada penyerahan diri (Submission) dan penyangkalan diri.
Pemimpin yang menyangkal diri adalah pemimpin yang menyerahkan hak-haknya (Hak untuk dihargai, didengar, membuat keputusan akhir, hak untuk marah…) kepada Allah demi pelayanan kepada orang lain. Dengan demikian mereka bukanlah seperti Saul yang ilusi control dengan melakukan hal-hal yang melawan perintah Allah, melainkan seperti Yesus dalam kepemimpinan-Nya. Seumur hidup penuh dengan pelayanan dan pendertiaan. Salib merupakan bukti penyerahan diri-Nya sepada Allah. hendaklah pemimpin-pemimpin Kristen menyadari bahwa yang memegang control akhir adalah Allah bukan manusia. Dengan demikian mereka tidak terjatuhpada ilusi control.

Anarki Dan Tirani : Penyimpangan Otoritas Pemimpin

Nelson’s Bible Dictionary, mendefinisikan otoritas sebagi :”Hak seseorang untuk melakukan hal-hal tertentu karena posisi atau kedudukan yang ia miliki, otoritas itu diberikan kepada posisi, bukan kepada individual dan penggunaan otoritas aadalah hak individu yang menduduki posisi tertentu.
Alkitab menjelaskan bahwa ada dua macam natur otoritas yaitu otiritas intrinsic dan otoritas turunan. Otoritas intrinsik adalah otoritas yang secara inheren dimiliki karena natur dari pemiliknya. Hanya Allah yang memiliki otoritas ini. Otoritas ini adalah bagian dari atribut Allah, oleh karena itu bersifat kekal dan absolute.
Otoritas turunan adalah otoritas yang didelegasikan, artinya segala bentuk otoritas yang manusia miliki berasal dan diturunkan dari Allah. oleh karena itu seluruh otoritas turunan tersebut harus tunduk kepada otoritas Allah (Yoh 19:11).
Jika manusia menolak otoritas turunan yang dimiliki oleh pemerintah, orang tua, pendeta, dan penatua maka yang terjadi adalah anarki. Sedangkan tirani berarti penolakan pemerintah, orang tua, majikan, pendeta, dan penatua terhadap otoritas Allah yang dijelaskan oleh Alkitab. Tirani juga berarti menempatkan diri dalam posisi Allah dan berlagak seperti Allah.
Alkitab mengajarkan bahwa tujuan Allah memberi otoritas kepada pemimpin, adalah untuk melayani orang lain (Luk 22:26). Dalam melayani orang lain hendaklah para pemimpin meneladani cara kepemimpinan Yesus, sehingga kita dapat menjadi teladan yang baik.
Selanjutnya perlu diketahui bahwa ketaatan kepada otoritas turunan itu penting tetapi tidak mutlak. Alkitab menyatakan bahwa kita perlu menghargai dan mentaati pemimpin bila mereka berfungsi dalam domain yang sudah digariskan Allah (I Kor 16:15-18; 1 Tes 5:12-13; Tit 2:15; Ibr 13:7-17). Tetapi jika mereka tidak berfungsi dalam domain yang telah ditetapkan oleh Allah maka seharusnya tidak ditaati. Contoh : Dua bidan di tanah Mesir.

Berpacu Melawan Kuda : Sebuah Tantangan kepemimpinan

Menjadi pemimpin Kristen ada sisi yang sangat menjanjikan dan menjadi rebutan orang, tetapi ada juga sisi yang tidak enak, sisi yang membuat kesepian; mengalami penolakan; kekecewaan dan lain-lain. nabi Yeremia merupakan nabi yang dipanggil untuk menjalani kepemimpinan yang sulit. Berikut ini ada tiga pelajaran kepemimpinan dari Yeremia bagi kita yaitu:
1.Pisau Bermata Dua
Tugas pemimipin Kristen bagai pisau bermata dua. Ia harus menghibur orang yang susah dan menyusahkan orang yang terhibur. Obat yang paling mujarab untuk mengatasi penderitaan kita adalah menolong orang yang sedang menderita, karena kita akan kuat secara spiritual, mental dan emosional. Allah tetap sanggup untuk menciptakan pemimpin-pemimpin seperti Yeremia untuk menegur dan menyatakan kesalahan dalam zaman sekarang ini.
2.Berani Menderita Demi Kebenaran.
Kadang-kadang seorang pemimpin harus terlibat dalam konflik, sebagai konsekuensi logis dari tugas yang dipikulnya dan prinsip yang dipegangnya. Yeremia dalam kepemimpinannya banyak menghadapi tantangan dari banyak orang bahkan dari sahabat karibnya sendiri. Namun ia tetap berdiri tegak untuk menyatakan kebenaran Allah.
3.Beban kasih Yang Dalam.
Yeremia bisa saja memilih untuk tidak peduli dengan semua persoalan bangsa Israel. Namun perlu diketahui bahwa reputasi Yeremia sebagai “The Weeping Prophet” muncul karena beban kasih yang dalam ke[pada bangsa Israel. Ia sangat mencintai Allah dan orang-orang yang ia layani, bahkan orang-orang yang membencinya. Penderitaan tidak dapat menghancurkan semangat Yeremia surut, tetapi ia tetap optimis bahwa akan ada perubahan dan anugrah Allah akan selalu baru setiap hari.

Kritik Bagi Pemmpin : Sahabat Atau Musuh

Seorang pemimpin selalu dikelilingi oleh dua tipe manusia yaitu orang yang selalu taat secara mutlak kepada pemimpin tanpa berpikir dan bertanya ( Uncritical Lovers ), tipe yang kedua adalah orang yang selalu melancarkan kritik-kritik yang pedas dan tajam dengan tujuan untuk mendiskreditkan si pemimpin.
Kritik bagi pemimpin adalah sesuatu yang sangat perlubagi setiap pemimpin. Mengapa demikian? Karena pemimpin adalah pribadi yang Fallible, masa bisa salah dan perlu untuk di tegur. Namun teguran bagi pemimpin adalah teguran yang positif – konstruktif. Teguran seperti ini akan membawa mamfaat yang besar bagi pemimpin. Adapun yang menjadi mamfaat teguran/kritikan bagi pemimpin adalah :
1. Kritik mencegah sesuatu yang destruktif terjadi pada diri si pemimpin.
2. Kritiki menolong pemimpin untuk menyadari “blind sports” dalam dirinya.
3. kritik membuat pemimpin tetap tajam dalam kesaksian hidup dan efektivitas pekerjaan pelayan.
Kritik itu memang konfrontasional, ia menyatakan kesalahan dan menolong untuk melihat konsekuensinya. Contoh dalam Alkitab yang menyatkannya ( 1 Sam 13:13), dan Tuhan Yesus menghadiran Petrus yang sok pahlawan ( Mat 16:23 ). Memang tidak semua kritik itu membangun (bermamfaat), namun kritik yang disampaikan dengan kasih akan membangun sang pemimpin, tingal bagaimana sikap hati para pemimpin untuk menerima kritikan itu.

Seni Menegur Pemimpin

Dalam menjelaskan tentang seni menegur pemimpin, ada beberapa alasan yang sering dipakai untuk mereduksi keinginan, memberi nasihat dan masukan bagi pemimpin yaitu : Pertama, pembuktian terlebih dulu, artinya setiap orang yang hendak menegur pemimpin dituntut untuk melakukan apa yang sudah dilakukan pemimpin, setelah itu baru nasehat bisa diberikan. Kedua: jangan menegur orang yang diurapi oleh Tuhan (Maz105:15). Dampak dari teguran kepada orang yang diurapi adalah ditimpanya penyakit dan mengalami kecelakaan. Ketiga : adalah perintah Tuhan Yesus “ jangan kamu menghakimi…” (Mat 7:1), oleh karena itu pemimpin tidak boleh ditegur.
Seorang pemimpin tidak membutuhkan Unloving Critics. Bahkan sebaliknya pemimpin juga tidak membutuhkan Uncritical Lovers. Yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin adalah Critical Lovers. Dalam prinsip ini, saling menegur adalah bagian dari kunci membentuk komunitas umat Allah yang sehat dan bertambah.

Tidak ada komentar: